19th April 2014

Guru Juga Manusia

Panges belajar dengan tekun. Nilai matematikanya jatuh saat ulangan kemarin. Besok ulangan matematika akan diadakan lagi. Ia ingin nilainya bisa lebih baik atau bahkan sempurna alias seratus.

Panges belajar tekun bukan hanya karena nilai, melainkan juga karena hadiah. Bu Hesti kemarin menjanjikan sebuah hadiah bagi siswa yang nilai matematikanya 100.

“Bagi yang nilainya seratus, kalian akan dapat ini!” kata Bu Hesti sambil menunjukkan buku kumpulan cerpen Bobo. Wow Panges seketika ngiler melihat buku kesukaannya itu.

Latihan-latihan yang diberikan Bu Hesti dikerjakan Panges dengan cermat. Ia ingat betul kata Bu Hesti. “Jika kalian ingin pandai matematika, banyak-banyaklah berlatih!” Dengan banyak berlatih Panges memang dapat lebih cepat mengerti.

Panges sebenarnya punya buku kumpulan cerpen Bobo. Tapi buku yang ia punya edisi agak lama. Sedangkan yang dipegang Bu Hesti edisi terbaru. Kalau ia harus beli lagi, rasanya ia harus berpikir berkali-kali. Uang untuk SPP saja kadang ibunya bingung.

Esoknya saat ulangan matematika pun tiba. Panges dapat mengerjakan soal-soal Bu Hesti dengan mudah. Ia tersenyum senang karena merasa bisa mengerjakan dengan baik.

“Waktu masih banyak. Coba diteliti lagi!” kata Bu Hesti. Panges yang semula berniat akan mengumpulkan lembar jawabannya, mengurungkan niatnya. Ia meneliti jawaban demi jawaban yang ia tulis. Ternyata ia menemukan beberapa kesalahan dalam menghitung. Panges menghelas napas lega.

“Untung saja aku mengoreksinya!” gumam Panges lega.

Bu Hesti tidak bisa mengumumkan nilai ulangan hari ini. Jumlah siswa kelas 5 cukup banyak. Belum lagi jam mengajarnya masih penuh. Jadi Bu Hesti akan mengoreksi hasil ulangan itu di rumah.

“Bagaimana tadi? Kamu kesulitan tidak?” tanya Panges pada Ajeng. Ajeng adalah anak yang selalu mendapat peringkat satu.
“Sepertinya tidak ada sih,” jawab Ajeng dengan sikap rendah diri.

Hah! Tidak ada?? Panges merasa dirinya tidak akan menang besok.

“Kamu sendiri bagaimana?” Ajeng balik bertanya.
“Ada sih sedikit. Yah semoga aku bisa mendapatkan buku itu!” ujar Panges.

***

Hari yang ditunggu-tunggu Panges akhirnya tiba. Bu Hesti sudah siap dengan pengumuman pemenang buku kumpulan cerpen Bobo itu. Semoga! Semoga saja aku! Batin Panges penuh harap.

“Setelah Ibu teliti, yang mendapatkan nilai tertinggi adalah…” Bu Hesti sengaja menahan kalimatnya. Ia mengedarkan pandangan pada anak-anak yang penuh penasaran. “Ya, jadi yang berhak mendapatkan buku ini adalah Panges!”

Panges terkejut mendengar namanya disebut. Akhirnya impiannya tercapai juga. Ia berteriak girang dalam hati. Hari ini adalah hari yang tak terlupakan baginya.

Panges tidak segera membuka buku hadiahnya yang masih dibungkus. Ia ingin menunjukkan kepada ibu terlebih dahulu. Ia membayangkan wajah Ibu yang penuh kebanggaan karena prestasinya.

Sore harinya, Ajeng main ke rumah Panges. Tidak biasanya Ajeng pergi ke rumah Panges. Panges berpikir pasti ada hal penting yang akan dibicarakan Ajeng.

“Ada apa, Jeng?” tanya Panges setelah Ajeng sudah duduk.
“Aku boleh tidak melihat ulangan matematikamu yang tadi?” kata Ajeng.
“Boleh,” jawab Panges tanpa ingin tahu apa maksud tujuan Ajeng.

Setelah hasil ulangan Panges diberikan, Ajeng mengamati dan membandingkan dengan hasil ulangannya. Ia mengamati satu per satu jawaban. Di menit berikutnya, Ajeng akhirnya menemukan sesuatu yang dicarinya.

“Maaf ya, Nges. Aku sepertinya menemukan ada kesalahan koreksi. Lihat nomor sembilan. Seharusnya jawabanku yang benar.”

Panges mengamati soal yang ditunjuk Ajeng. Bersama-sama lalu mereka menghitung. Ternyata ditemukan jawaban Ajeng yang betul. Itu artinya nilai Ajeng sebenarnya lebih tinggi dari nilai Panges.

“Maaf ya karena aku sudah mengusik keberhasilanmu. Tapi sungguh aku tidak bermaksud jahat terhadap kamu. Aku hanya merasa ulanganku tidak ada yang salah. Hanya alasan itu yang membawaku kemari.”
“Aku tahu, Jeng. Buku itu memang bukan hakku.”
“Soal buku itu, aku tidak pernah mempermasalahkan kok. Semuanya juga terserah kamu mau jujur atau tidak pada Bu Hesti. Aku tidak akan melaporkan ini pada Bu Hesti kok.”

Panges tahu Ajeng adalah anak yang pandai dan tidak sombong. Sikapnya pun selalu baik dan manis. Jika Ajeng tidak melapor, buku itu akan tetap jadi miliknya. Tetapi jika ia tidak melapor, artinya buku itu ia dapat dengan cara tidak sportif. Panges bingung memikirkannya. Padahal baru saja ia tersenyum ceria mendapatkan kebahagiaan.

Bu Hesti memang ceroboh, batin Panges. Ia benar-benar mempermainkan perasaanku. Kalau tahu begini lebih baik aku tidak mendapatkan buku itu sejak awal. Aku benar-benar kecewa dengan kecerobohan Bu Hesti. Panges benci sekali pada Bu Hesti. Ia merasa dipermainkan.

Pagi itu, Panges menemui Bu Hesti di kantor. Tak lupa ia mengajak serta Ajeng. Akhirnya ia memutuskan untuk bicara jujur pada Bu Hesti tentang masalah itu.

“Astaga! Maafkan Ibu ya. Mungkin Ibu mengantuk saat mengoreksinya,” kata Bu Hesti merasa bersalah.

Panges tertunduk penuh sedih. Ajeng merangkul sahabatnya seakan mengerti perasaan Panges.

“Ibu akan ubah nilai kalian segera. Untuk Ajeng nanti akan dapatkan buku seperti yang Ibu janjikan. Dan untuk Panges, buku itu akan tetap jadi milikmu kok.”
“Tapi, Bu?” Panges terkejut mendengar kalimat Bu Hesti.
“Buku itu sebagai hadiah atas kejujuranmu. Sekali lagi maaf, ya. Akhir-akhir ini putra Ibu sakit. Jadi mungkin Ibu kecapekan. Mohon dimaklumi lo ya. Kalau sampai Bu Guru melakukan kesalahan. Maklum, Bu guru kan juga manusia!” sambung Bu Hesti sambil tersenyum.

Ajeng dan Panges tersenyum mendengar kata-kata Bu Hesti. Panges yang tadi bersedih pun kini berganti ceria kembali. Ia menyesal telah salah menilai Bu Hesti. Ia pikir Bu Hesti akan mengambil buku hadiah itu dan diberikan pada Ajeng. Ia tidak menyangka ternyata Bu Hesti mengerti benar perasaannya. Bu Hesti tidak mau karena kesalahannya, hati muridnya jadi terluka. Terima kasih, Bu! Ucap Panges dalam hati. Usai sekolah, ia janji akan menjenguk putra Bu Hesti nanti.

Oleh: Deny Wibisono, Pemenang Harapan Lomba Mengarang Cerita Anak oleh Guru tahun 2009